Amaliahimida's Blog
Just another WordPress.com site

Nasib Obat dalam Tubuh

Obat dapat masuk ke dalam aliran darah dengan dua macam cara, yaitu cara langsung (intravaskuler = iv), misalnya disuntikkan intravena dan cara tidak langsung (ekstravaskuler = ev), misalnya melalui mulut (peroral) atau disuntikkan intramuskular. Pada cara tidak langsung obat mengalami peristiwa absorspi terlebih dahulu, yaitu perpindahan obat dari tempat pemberian (aplikasi) ke dalam aliran darah (sirkulasi sistemik).

Di dalam darah, kebanyakan obat mengalami pengikatan secara reveribel dengan komponen-komponen darah terutama albumin. Dengan demikian di dalam darah obat terdapat dalam dua bentuk, yaitu bentuk bebas dan bentuk terikat. Bentuk terikat karena molekulnya besar, tidak bisa menembus membran, tetap tinggal dalam ruang vaskuler; sedangkan bentuk bebas akan menembus dinding vaskuler dan masuk ke dalam jaringan-jaringan dan cairan tubuh lainnya. Peristiwa penyebaran ini disebut distribusi, yaitu perpindahan obat dari darah ke dalam cairan tubuh lainnya (limfa dan cairan ekstravaskuler), jaringan serta organ-organ. Dalam jaringan, obat terikat secara reversibel dengan komponen-komponen jaringan, misalnya protein dan lemak jaringan. Jika dalam distribusi ini, obat dapat mencapai tempat kerjanya, maka obat itu akan bekerja dan kemudian menimbulkan efek yang sering disebut efek farmakologik atau respon biologik. Efek ini dapat terjadi sebagai akibat interaksi antara obat dan reseptornya.

Obat + reseptor ——- kompleks ——- EFEK

Yang dimaksud dengan kerja obat ialah perubahan kondisi yang dapat menimbulkan efek, sedangkan efek ialah perubahan fungsi struktur atau proses sebagai akibat kerja obat. Efek obat pada hakekatnya merupakan perubahan fungsi secara kuantitatif (bukan kualitatif) yang dapat berupa kontraksi otor, sekresi oleh kelenjar, pelepasan hormon, perubahan dalam aktivitas saraf, perubahan dalam kecepatan pembelahan sel, atau kematian sel.

Di dalam organ tertentu (misalnya hati), obat dapat mengalami perubahan kimiawi menjadi senyawa lain. Peristiwa ini disebut biotransformasi dan senyawa hasil biotransformasi disebut metabolit. Jika dibandingkan dengan senyawa induk atau asalnya (parent substance) aktivitas farmakologik metabolit dapat berbeda secara kuantitatif atau kualitatif. Biotransformasi di dalam hati ini dapat terjadi setelah obat diabsorpsi dari saluran cerna sebelum mengalami distribusi ke seluruh tubuh. Peristiwa ini disebut efek lintas pertama (first-pass effect).

Obat merupakan senyawa asing yang secara normal tidak dibutuhkan oleh tubuh pada akhirnya obat akan dikeluarkan. Perisitiwa ini dikenal sebagai ekskresi yaitu perpindahan obat dari darah ke dalam cairan atau organ ekskretori (misalnya urin, paru atau ginjal). Organ yang mempunyai paparan penting dalam ekskresi ialah ginjal karena hampir semua obat diekskresi melalui organ ini. Bentuk obat yang dikeluarkan dari tubuh bisa berupa obat yang belum atau tidak berubah (senyawa induknya) dan atau metabolitnya.

Peristiwa-peristiwa yang dialami obat setelah masuk ke dalam darah atau setelah absorpsi sering disebut disposisi. Disamping itu, biotransformasi dan ekskresi sering digabungkan menjadi eliminasi. Penggabungan menjadi eliminasi ini didasarkan atas kenyataan bahwa biotrasformasi dan ekresi mengakibatkan pengurangan jumlah obat dalam tubuh.

sumber : http://www.blogkita.info

No Responses to “Nasib Obat dalam Tubuh”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: