Amaliahimida's Blog
Just another WordPress.com site

Apoteker, Legenda Bagi Seorang Tukang Cuci (calon Farmasist musti baca!!!)

sumber : http://www.facebook.com/notes/mustika-suci-jungjunan/apoteker-legenda-bagi-seorang-tukang-cuci-calon-farmasist-musti-baca/381845386388

(Esai ini saya buat setahun yang lalu dimana data-data yang tercantum -terutama tentang ISFI- adalah data yang berlaku saat itu)

”Apoteker? Setahu saya apoteker mah tukang obat”, jawab seorang satpam PDAM di daerah Tamansari,
Kota Bandung.

”Apoteker? Saya belum pernah dengar, Neng!”, seorang pedagang makanan di sekitar kampus Institut Teknologi Bandung menggelengkan kepala saat saya tanyakan pengertian apoteker.

Dan naasnya, seorang tukang cuci pakaian di daerah Pelesiran, Kota Bandung, berkata ”Apoteker itu sebuah legenda, kayak Sangkuriang gitu, Neng!”.

Sebuah realita yang memilukan! Terlalu eksklusifkah seorang apoteker sampai-sampai hanya orang-orang yang mengeksklusifkan dirinya sajalah yang tahu arti sebuah profesi apoteker?
Atau mereka, rakyat kecil itukah yang terlalu bodoh dan naif hingga mereka tak tahu apa itu apoteker?

Jika saya diizinkan bertanya, hal pertama yang akan saya tanyakan adalah ini salah siapa? Dan apabila saya diperkenankan untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan kesulitan mencari alasan yang tepat untuk membuktikan bahwa fenomena yang sangat tragis ini adalah salah mereka –tukang cuci, pedagang makanan, dan satpam–. Mengapa? karena ketika saya bertanya tentang dokter yang notabene sama-sama merupakan profesi di bidang kesehatan, tak satu pun dari mereka yang menggelengkan kepala tanda tak tahu.

Kok bisa dokter lebih populer dari apoteker? Itulah pertanyaan kedua yang patut saya tanyakan. Apa karena kata ’dokter’ sudah merakyat? Jika memang demikian, mengapa kata ’apoteker’ tidak merakyat? Atau mungkin karena dokter memang sudah seharusnya berinteraksi langsung dengan pasien? Jika memang demikian, apakah seorang apoteker tidak ’seharusnya’ berinteraksi langsung dengan pasien? Terlalu banyak pertanyaan retoris yang muncul ketika saya paksakan diri untuk mengatakan bahwa ketidaktahuan rakyat kecil tentang apoteker disebabkan kebodohan dan apriori mereka sendiri terhadap apoteker.

Apa yang saya utarakan di atas memang 90% masih terbungkus kata ”asumsi”. Namun, itulah paparan yang menurut saya paling pantas dimunculkan ke permukaan setelah sekian lama terkubur dan terabaikan.

***

Apa yang salah dengan apoteker Indonesia? Jawaban untuk pertanyaan ketiga ini berpotensi menghabiskan puluhan kertas A4 yang saya miliki karena dewasa ini sudah terlalu banyak pelanggaran yang dilakukan apoteker yang berujung pada kebiasaan. Satu hal yang pasti, baik sistem maupun apoteker di Indonesia pada saat ini memang bermasalah.

Pertama, banyak apoteker yang tidak mengerti apa itu profesi apoteker. Mereka tidak mampu mendalami Kode Etik Apoteker Indonesia sehingga “they pretend that everything is allright”. Mereka menganggap bahwa kondisi kefarmasian di Indonesia saat ini baik-baik saja. Akibatnya, mereka tidak termotivasi untuk terus mengembangkan keahliannya seperti yang tertuang dalam Kode Etik Apoteker Indonesia Pasal 4 yang berbunyi: Setiap Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya. Adapun konsekuensi logis dari kondisi ini adalah kurangnya apresiasi masyarakat terhadap profesi apoteker.

Masalah kedua, belum adanya kesamaan standar pendidikan farmasi di Indonesia yang menyebabkan bervariasinya kualitas dan kompetensi yang dimiliki apoteker. Padahal, menurut Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI), Drs. Arel St. S. Iskandar, MM., Apt., rasio jumlah apoteker terhadap jumlah penduduk di Indonesia saat ini telah mencapai angka ideal. Sayangnya, masih banyak oknum yang belum pantas menyandang gelar apoteker tapi sudah diterjunkan ke masyarakat. Kondisi ini diduga kuat menyebabkan turunnya pamor, kualitas, dan profesionalitas apoteker.

Masalah ketiga, organisasi profesi apoteker Indonesia saat ini tengah berhibernasi, tidur cukup lama. Beberapa apoteker dari sumber yang saya dapatkan mengaku sama sekali tidak memperoleh manfaat dari keanggotaan mereka di ISFI (Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia). Selain itu, kurangnya eksistensi ISFI menyebabkan kurang baiknya sistem pengontrolan terhadap kinerja apoteker sehingga banyak sekali apoteker yang dengan bebas melakukan pelanggaran demi pelanggaran. Contohnya, banyak apoteker yang namanya wara-wiri di beberapa apotek, padahal seharusnya seorang apoteker hanya boleh membawahi satu apotek. Selain itu, sudah terlalu sering kita melihat asisten apoteker yang dengan setia nongkrong di apotek. Ini merupakan salah satu bentuk pelanggaran yang lazimnya terjadi di banyak apotek. Seharusnya, apoteker lah yang melakukan pekerjaan kefarmasian dan memberikan hak-hak pasien yang datang ke apotek, bukan asisten apoteker! Kesalahan yang sudah menjadi kelumrahan ini terjadi karena kurangnya tanggung jawab apoteker serta kurang kuatnya hukum yang menangani kasus ini.

Kode Etik Apoteker pasal 15 menyebutkan Jika seorang Apoteker baik dengan sengaja maupun tidak sengaja melanggar atau tidak mematuhi Kode Etik Apoteker Indonesia, maka apoteker tersebut wajib mengakui dan menerima sanksi dari pemerintah, Ikatan/Organisasi Profesi Farmasi yang menanganinya yaitu ISFI dan mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sayangnya, badan pemberi sanksinya sendiri masih jatuh bangun sehingga bukan suatu hal yang mustahil jika dunia farmasi Indonesia saat ini masih jalan di tempat.

Berkenaan dengan hak pasien yang datang ke apotek, saya mengutip pendapat Aldi Daswanto, S.Si., Apt. yang mengatakan bahwa hak utama dari seorang pasien yang datang ke apotek adalah memperoleh informasi yang berkaitan dengan pengobatan yang sedang dijalaninya. Informasi mengenai pengobatan ini sangat penting karena jika pasien memiliki pemahaman yang benar mengenai kondisi pengobatannya maka tingkat keberhasilan dari suatu pengobatan akan semakin besar. Seorang pasien sudah sepantasnya mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa nama obat yang diberikan dan tujuan penggunaan obat tersebut? Kapan obat tersebut harus dikonsumsi? Apakah ada makanan atau hal lain yang harus dihindari ketika mengonsumsi obat tersebut? Apakah ada efek samping yang mungkin timbul akibat pengonsumsian obat tersebut? Bagaimana cara menyimpan obat, dan apa yang harus dilakukan jika akan membuang sisa obat yang sudah tidak terpakai? dan masih banyak informasi kesehatan lainnya.
***

Jika paparan di atas cenderung menyudutkan sistem dan profesi kefarmasian (terutama apoteker yang bekerja di apotek dan rumah sakit), maka sebuah pemikiran logis yang saya tuangkan dalam rangkaian kata berikut ini sedikitnya dapat memberikan gambaran bahwa tidak semua kekacauan di dunia farmasi Indonesia adalah karena kesalahan sistem dan para pelaku profesinya.

Salah satu penyebab merosotnya peran apoteker terutama di apotek adalah adanya suatu kondisi yang menuntut mereka menanggalkan idealisme dan bertindak berdasarkan realita bahwa kebutuhan hidup semakin meningkat. Dilihat dari sudut pandang manajemen misalnya, dewasa ini apotek diposisikan sebagai tempat untuk mendapatkan obat, baik dengan atau tanpa resep dokter. Fenomena ini terjadi karena tuntutan untuk mempertahankan kelangsungan hidup apotek akibat ketatnya persaingan baik dengan sesama apotek, dengan toko obat, maupun dengan dokter dispensing. Akan tetapi, karena apotek memiliki koridor aturan yang sangat ketat sementara yang lain tidak, maka persaingan ini tidaklah berada dalam lapangan permainan yang seimbang.

Positioning apotek seperti di atas tidak sepenuhnya keliru, hanya saja dapat melunturkan fungsi pelayanan kefarmasian dari sebuah apotek (karena tertutupi dominasi kegiatan dagang). Keadaan inilah yang diduga kuat menyebabkan menguapnya idealisme dan rasa tanggung jawab dari seorang apoteker yang seharusnya mengutamakan keselamatan pasien.
***

Sukses suatu bangsa adalah akumulasi dari sukses individunya. Demikian pendapat Marwah Daud Ibrahim dalam bukunya, Mengelola Hidup Merencanakan Masa Depan. Adapun menurut versi saya, majunya dunia kefarmasian suatu bangsa adalah akumulasi dari majunya sistem dan para pelaku profesinya.

Solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan kefarmasian di Indonesia hanya terletak pada dua hal, yakni perbaikan individu dan perbaikan sistem, karena akar permasalahan dari tersendatnya perkembangan kefarmasian Indonesia adalah adanya ketidakberesan dalam diri pelaku profesinya serta sistem yang belum berdiri kokoh.
Perbaikan individu dapat dilakukan dengan pemberian materi softskill yang mendalam selama calon apoteker berada di perguruan tinggi atau pada saat mengambil program profesi apoteker. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan memasukkan materi Kode Etik Apoteker Indonesia sebagai salah satu mata kuliah sehingga diharapkan materi tersebut dapat tercermin dan terpatri dalam setiap tindakan para apoteker ketika mereka diterjunkan ke masyarakat.

Perbaikan sistem dilakukan dengan cara menguatkan posisi Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) sebagai satu-satunya organisasi kefarmasian yang berhak mengontrol kinerja apoteker dan mengurusi berbagai bentuk masalah kefarmasian. Penguatan posisi ini sebagian besar diperankan oleh orang-orang yang berada dalam ISFI sendiri. Sulit bagi saya untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh ISFI dalam mengatasi permasalahan yang kian rumit ini karena hal itu diluar kapasitas saya. Hanya saja, satu hal penting yang harus dimiliki sebuah organisasi adalah adanya loyalitas dari anggota. Ketika seorang apoteker merasa tidak mendapatkan apa-apa setelah menjadi anggota ISFI, berarti ada bagian yang cacat dari organisasi profesi Apoteker ini. Walaupun demikian, dari beberapa literatur yang saya pelajari terbukti bahwa saat ini ISFI sudah mencoba bangkit. Beberapa program yang diadakan ISFI seperti Sertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker atau SKPA merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap masalah kefarmasian di negeri ini.

Solusi yang saya tawarkan memang terkesan muluk-muluk dan terlalu idealis. Akan tetapi, itulah solusi terbaik yang bisa kita lakukan mengingat semua hal besar berawal dari hal kecil. Regulasi kaderisasi/ pembinaan dalam hidup adalah hal yang sangat penting karena diharapkan akan lahir generasi yang lebih baik.

Dengan lahirnya apoteker-apoteker yang lebih bertanggung jawab, diharapkan hak-hak masyarakat dapat tertunaikan sehingga tak ada lagi apoteker yang numpang nama di apotek, tak ada lagi apoteker yang hanya menjadi tukang obat seperti yang diungkapkan satpam PDAM di daerah Taman sari, Kota Bandung, dan takkan ada lagi seorang tukang cuci pakaian yang mensinonimkan apoteker dengan Legenda Sangkuriang.

By: Mustika Suci Jungjunan, calon farmasist yang ga mau cuma majangin nama di apotek.

COME ON, berjayalah Farmasist!

No Responses to “Apoteker, Legenda Bagi Seorang Tukang Cuci (calon Farmasist musti baca!!!)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: