Amaliahimida's Blog
Just another WordPress.com site

Ibu Ainun Habibie: Hati Seorang Wanita Indonesia

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Telah wafat Ibu Hasri Ainun Habibie. Wafat pada Sabtu, 22 Mei 2010, pukul 17.35 di Jerman. Tepatnya di RS Ludwig-Maximilians – Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munchen. Beliau meninggal setelah menjalani perawatan kurang lebih 60 hari sejak 24 Maret akibat gangguan paru-paru yang akut. Ibu Ainun wafat dalam usia 72 tahun, setelah pihak RS Ludwig Maximilians mengaku “angkat tangan” untuk merawat beliau.

Teriring doa, “Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fuanha.” Semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, memberikan keselamatan dan memaafkan kesalahannya. Amin Allahumma amin.

Wafatnya Ibu Ainun Habibie, seolah merupakan pertanda PERDAMAIAN antara bangsa Indonesia dengan keluarga Habibie. Seperti kita tahu, Ibu Hajah Ainun Habibie memilih tinggal di Jerman bersama suaminya bukan tanpa alasan. Beliau dan keluarga seakan hijrah ke Jerman, mencari tempat yang nyaman bagi kehidupan keluarganya. Bukan nyaman dari sisi fasilitas hidup, tetapi nyaman dari serangan musuh-musuh politik Pak Habibie.

Ada sebuah pertanyaan besar dalam hati saya ketika memikirkan mundurnya Pak Habibie secara total dari dunia politik, dan enggannya Bu Ainun tinggal di Indonesia. Mengapa harus tinggal di Jerman? Mengapa harus berlama-lama di negeri orang? Bukankah seburuk-buruk keadaan negeri sendiri, itu lebih baik daripada negara orang lain? Hal ini menjadi buah kerisauan yang lama terpendam.

Ternyata, Bu Ainun memilih tetap berada di Jerman, bahkan wafat pun kalau perlu di Jerman. Meskipun kemudian, jenazah beliau tetap akan dikebumikan di TMP Kalibata Jakarta. Artinya, Bu Ainun tetap kembali ke Tanah Air, setelah sekian lama hijrah dari negerinya sendiri.

Ada beberapa renungan yang sangat dalam di balik kegigihan hati seorang Ainun Habibie, yang memilih tinggal di negeri orang sampai wafatnya.

(=) Beliau bukan tidak nasionalis, atau tidak mencintai negerinya. Tidak demikian. Sebab hari-hari yang dijalaninya selama mendampingi BJ. Habibie, memang didedikasikan untuk melayani masyarakat. Kegiatan sosial, Dharma Wanita, keagamaan, itu didedikasikan untuk masyarakat Indonesia. Kalau seorang Ainun Habibie tidak nasioanalis (dalam arti mencintai negaranya sendiri), tentu dia akan menyuruh suaminya bekerja di Boeing, Air Bus, bekerja di perusahaan-perusahaan aviasi internasional yang lebih menjamin kesejahteraan ekonomi.

(=) Sebagai seorang wanita, Ibu Ainun sudah merasa berjuang sekuat tenaganya demi melayani dan membantu urusan bangsa Indonesia. Tetapi di kemudian hari, jasa-jasa besar itu justru dibalas oleh lawan-lawan politik Pak Habibie dengan: penghinaan, celaan, kejaman, hujatan, penghancuran karakter, sampai pengkhianatan yang sangat menyakitkan. Nah, inilah yang tidak kuasa di hadapi Ibu Ainun.

(=) Ibu Ainun bukan tipikal wanita politisi yang tahan dengan berbagai intrik politik. Beliau wanita biasa. Tadinya seorang dokter, tapi kemudian memilih jalan menjadi ibu rumah-tangga biasa. Ibu Ainun bukan wanita yang tahan menghadapi turbulensi politik, sebab beliau seperti wanita Indonesia pada umumnya, yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarga dan kebaikan masyarakat. Maka suatu saat, ketika hati beliau “terluka”, tidak ada yang sanggup untuk menahan langkahnya hijrah ke luar negeri. Inilah tipe wanita Indonesia murni, yang peka perasaannaya dan memiliki sensitifitas kuat.

(=) Jika yang memusuhi Pak Habibie dari kalangan sekuler, anti Islam, atau pro Amerika; hal itu sangat mungkin bisa dimaklumi oleh Ibu Ainun Habibie. Tetapi ternyata, orang-orang yang “menikam suaminya dari belakang” bukan hanya dari luar, tetapi juga dari kalangan yang memakai baju Islam. Seorang tokoh reformasi tertentu, yang notabene sahabat Habibie di ICMI terus-menerus menyerang Habibie sebagai “murid Soeharto”. Waktu itu, tidak semua tokoh ICMI menolong Habibie, tapi ada yang menjerumuskannya. Begitu pula wartawan-wartawan Republika (ketika itu) yang notabene merupakan koran yang didirikan oleh Habibie. Ditambah lagi permusuhan intensif dari agen-agen gerakan anti Islam, sekuler, liberal, pro asing di negeri ini.

(=) Sebagian kalangan teknolog ada yang pedas mengkritik Habibie. Katanya, produk teknologi Habibie (pesawat) tidak sebagus kualitas produk Boeing, Air Bus, dll. Untuk membuktikan apakah para pengeritik itu sudah mumpuni atau belum sederhana saja. Kita bisa bertanya ke mereka: “Produk teknologi apa yang sudah mereka buat, dan bagaimana penilaian pasar kepadanya? Apakah mereka bisa diterima sebagai pakar teknologi aviasi di company-company dunia? Apakah mereka memiliki jam terbang tinggi dalam memberikan kuliah seputar aeronautika? Apakah mereka menghasilkan hak-hak paten di bidang teknologi aeronautika? Apakah mereka bisa menegakkan IPTN setelah Habibie lepas darinya?” Kalau mereka tidak bisa menjawab semua ini, ya itu tandanya kritik mereka muncul karena kedengkian khas kaum teknolog saja.

Ainun Habibie sengaja tidak pulang ke Tanah Air sampai wafatnya, seolah beliau ingin memberikan pesan, “Sebuah bangsa yang tidak mengenal moral dan budi, tidak layak diprioritaskan.”

Tapi kita sebagai bangsa sebenarnya merasa malu juga. Bagaimana mungkin seorang wanita yang mendedikasikan hidupnya demi kebaikan masyarakat dan bangsanya, sampai tidak mau pulang kampung? Bu Ainun baru mau kembali ke Tanah Air, setelah dirinya wafat.

Ya memang, segalanya seperti dilematik. Keluarga Habibie tidak terlalu dekat dengan kalangan gerakan Islam di Tanah Air. Bahkan mungkin di mata Pak Habibie dan keluarga, kalangan gerakan Islam dipandang sebagai fundamentalis, radikal, garis keras. (Ini hanya prasangka saya saja. Mohon maaf kalau keliru). Padahal di tengah gerakan Islam ada kejujuran, komitmen, solidaritas, keteguhan moral, serta pengertian yang mereka butuhkan.

Di sisi lain, kalangan Muslim yang dekat Habibie bukanlah orang-orang yang matang dengan ilmu keislaman, matang dengan pengalaman berjuang di jalan Islam, matang dalam ketulusan, dll. Di mata saya, lebih baik mempercayai orang yang berani tulus memberikan nasehat karena rasa mencintai, daripada memilih orang yang “selalu nurut kata Bapak”. Namun secara kedewasaan berpikir, kalangan gerakan Islam sendiri juga banyak yang “tidak nyambung” dengan gagasan-gagasan Habibie. Seolah gagasan Habibie terlalu tinggi untuk dipahami, sehingga tidak menarik di mata gerakan Islam. Padahal kalau mau dicari secara serius, disana banyak sisi irisan yang bisa saling dikerjasamakan satu sama lain. Inilah, serba dilematik.

Di mata kita, Pak Habibie dan isterinya Hajjah Ainun -semoga Allah merahmatinya-, tidaklah seperti ustadz-ustadz kita yang kencang menyerukan pentingnya menerapkan Syariat Islam dalam kehidupan nasional. Tetapi mereka memiliki kontribusi kebaikan bagi kehidupan kaum Muslimin di negeri ini. Nah, kontribusi itulah yang kita hargai. Adapun kekurangan-kekurangan mereka, menjadi amanah bagi kita untuk menasehatinya secara hikmah.

Dari sisi kepedulian kepada Ummat Islam di Tanah Air, Pak Habibie satu barisan dengan gerakan Islam. Namun dari sisi pergaulan, seperti ada diskoneksi antara gerakan Islam dengan Pak Habibie. Pak Habibie dan keluarga merasa tidak dihargai lagi di Indonesia, padahal kita menghargai kontribusi mereka bagi Ummat. Sementara orang-orang yang selama ini mengelilingi Pak Habibie, lebih banyak kalangan Muslim “priyayi” yang tidak memiliki karakter kuat. Ya, begitulah kurang lebih.

Wafatnya Ibu Ainun Habibie seharusnya menjadi tanda bagi kalangan dakwah Islam untuk shilaturahim kepada Pak Habibie dan keluarganya. Sebaliknya, hal itu seharusnya menjadi MASUKAN bagi Pak Habibie dan keluarga, bahwa kaum Muslimin sangat menghargai beliau. Jika ada yang memusuhi atau menghujat, hal itu umumnya dari kalangan non Muslim, para pendengki, media-media sekuler, serta orang-orang yang salah paham. Yakinlah, kaum Muslimin selama ini sikapnya baik kepada mereka.

Bahkan perlu ditegaskan disini, hatta Pak Habibie tidak setuju dengan penegakan Syariat Islam di Indonesia, apapun alasannya; tetap jasa-jasa beliau dihargai Ummat Islam. Menghargai jasa seorang manusia (apalagi Muslim) sudah menjadi amanah yang melekat dalam kehidupan orang-orang beriman. Jika Nabi Saw mau menghargai Muth’im bin Ady, seorang tokoh Makkah yang masih musyrik; maka kita pun juga menghargai jasa-jasa Pak Habibie dan keluarganya.

Semoga menjadi nasehat bagi semua pihak, khususnya diriku sendiri. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Semoga Allah mengampuni Ibu Ainun, merahmatinya, memberinya keselamatan, serta memaafkan kesalahan-kesalahannya. Amin ya Rahiim.

No Responses to “Ibu Ainun Habibie: Hati Seorang Wanita Indonesia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: