Amaliahimida's Blog
Just another WordPress.com site

Perjalanan sang maestro keroncong

Perjalanan sang maestro keroncong
Pesona Gesang mengalir sampai jauh

Image

Foto: Reko Suroko-pu

LANGIT di atas Astana Pracimoloyo, Kartosuro, Sukoharjo, Jumat (21/5), terlihat cerah tanpa mendung segumpal pun. Seolah-olah kepergian Sang Maestro musik keroncong, Gesang Martohartono (92), mendapatkan ’jalan-terang’ dari Sang Khalik. Kepergian Gesang Martohartono tak hanya menorehkan duka di hati masyarakat Indonesia. Jauh di Jepang sana, orang-orang juga meratapi kematiannya. Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kojiro Shiojiri, bahkan menyempatkan diri melayat ke rumah duka, almarhum Gesang di di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan.

Tiba di rumah duka, Shiojiri langsung disambut keluarga dan menyatakan turut berbela sungkawa. Dia juga menyampaikan pesan dari masyarakat Jepang atas wafatnya Gesang.

Shiojiri mengatakan, Gesang di mata masyarakat Jepang adalah tokoh seniman Indonesia yang sangat digemari dan dicintai. Bahkan, lagu ciptaanya yang berjudul ’Bengawan Solo’ menjadi penghubung kebudayaan antara Indonesia dan Jepang. ”Lagu-lagu ciptaan Gesang sampai ke Jepang dan ini menunjukkan betapa masyarakat Indonesia sangat ramah dan sangat menghargai alam,” ujar Shiojiri.

Para penggemarnya di Belanda dan Cina sempat me-nanyakan kebenaran berita meninggalnya Gesang. Sejumlah penggemar Gesang dan media massa berkali-kali menghubungi keluarga menanyakan kebenaran informasi tersebut.

”Berkali-kali saya dihubungi para penggemarnya di Jepang, Belanda, dan Cina. Salah satu stasiun televisi di Jepang menghubungi rumah sakit untuk meminta keterangan benar tidaknya kabar itu,” ujar Yuni Efendy, keponakan Gesang.

Keponakan Gesang yang lain, Yuniarti, bahkan menyatakan dukungan datang dari seorang direktur rumah sakit di China. Tak hanya itu, perkembangan kesehatan Gesang pun diliput oleh stasiun televisi China, Minggu (16/5) lalu.

”Mereka menyatakan dukungan kepada Mbah Gesang. Karena mereka begitu menggemari Mbah Gesang yang menciptakan lagu Tembok Besar,” kata Yuniarti. Lagu Tembok Besar diciptakan tahun 1963 itu bercerita tentang Tembok Besar China.

Pemakaman
Ketika jenazah almarhum akan tiba di lokasi pemakaman, aparat keamanan sibuk menyibak warga masyarakat yang akan menyaksikan prosesi pemakaman Sang Legenda. Sepuluh anggota Kopassus Kandang Menjangan sudah bersiaga untuk melepaskan tembakan salvo, sebagai penghormatan kepada Gesang yang mendapatkan Bintang Budaya Parama Dharma. Gelar ini menyejajarkan almarhum dengan pahlawan lainnya.

Sekitar pukul 14.30 jenasah yang diberangkatkan dari Pendhapi Ageng Balaikota, Solo, tiba di Astana Pracimoloyo. Komandan Korem 074 Warastrama, Kolonel (Inf) Abdulrahman Kadir menyambutnya dan bendera Merah-Putih dibentangkan di atas liat lahat almarhum. Tembakan salvo pun bergema di udara.

Gesang yang sudah terbungkus kain kafan itu pun dimasukkan ke liang lahat, demikian pula dengan serpihan peti jenasah. Adzan diperdengarkan. Suasana senyap terasa di lokasi pemakaman yang dipadati warga.

Almarhum yang melegenda ini ditempatkan di urutan ke-14 dari 15 makam yang ada di pemakaman keluarga Martodiharjo. Tiga belas makam sudah terisi, di antaranya Martodiharjo (ayah), Sangadah (ibu). Selain itu tertulis juga Ny Martodihardjo II dan III dan sanak keluarga yang lain. Kompleks makam ini dibangun tahun 1998 silam.

Para keluarga pun menaburkan bunga di liang lahat, sebelum liang itu diurug. Para keluarga bergiliran melemparkan tanah ke liang itu.Semua pelayat pulang dan Gesang sendirian mengalir sampai jauh. Ratusan karangan bunga berjajar menuju ke makan Gesang. Selepas pelayat meninggalkan makam, karangan bunga pun menjadi rezeki warga sekitar makam. Boleh jadi, bunga dan kerangkanya dijual ke pengrajin karangan bunga lagi.

Suasana di balaikota
Sebelumnya suasana haru terasa menyelimuti Pendhapi Ageng Komplek Balaikota Solo. Gedung yang megah itu berubah menjadi rumah duka bagi masyarakat yang ingin melepas kepergian seorang manusia yang bersahaja dan sederhana.

Tak beda dengan suasana di dalam pendhapi, di luar pendhapi pun banyak warga yang menanti iringan jenazah lewat. Mereka seolah sudah merasa marem (puas) dapat menyaksikan prosesi pemakaman kendati dari jarak jauh.

Di sini jenazah Gesang dilepas langsung oleh Walikota Solo Joko Widodo dari Pendapi Balaikota Solo yang selanjutnya diserahkan keluarga untuk dimakamkan. Di sepanjang jalan menuju pemakaman, tampak ratusan warga ikut mengiringi prosesi pemakaman dengan iring-iringan kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Bahkan, di lokasi pemakaman, warga sudah menunggu sejak pagi untuk menyaksikan dan memberikan penghormatan terakhir kepada pencipta lagu “Bengawan Solo” ini. Lagu “Gugur Bunga” hingga “Bengawan Solo” yang dimainkan dengan gamelan terus mengiringi kepergian Gesang menuju peristirahatan terakhir.

No Responses to “Perjalanan sang maestro keroncong”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: